Ganjaran untuk Ganjar

Turunnya elektabilitas Ganjar dan PDI Perjuangan dianggap karena salah perhitungan terkait isu Piala Dunia U-20 dan Israel. Mereka ingin menjaring suara kelompok Islam, tetapi justru banjir kritik.

Ganjaran untuk Ganjar dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Ganjar Pranowo menukik cukup tajam. Pada awal 2023, Gubernur Jawa Tengah itu sempat mencapai puncak elektabilitasnya, yaitu memperoleh 27,2 persen suara responden. Namun pada bulan ini anjlok menjadi 19,8 persen. Sedangkan elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto selisih tipis 0,5 persen di bawahnya.

Tidak hanya itu, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada survei yang digelar pada 31 Maret hingga 4 April 2023 itu, PDI Perjuangan memperoleh tingkat elektabilitas 17,7 persen. Walaupun masih menjadi partai yang paling populer, angka itu turun dibandingkan perolehan pada Januari lalu, yang sebesar 21,9 persen. Sedangkan Partai Gerindra justru memperoleh kenaikan elektabilitas.

Selain itu, dalam simulasi pemilihan presiden dengan tiga kandidat, Ganjar hanya memperoleh 26,9 persen suara. Dengan itu, ia harus puas berada di posisi ke-2. Prabowo Subianto memimpin karena mengantongi 30,3 persen suara responden. Adapun posisi ketiga ditempati Anies Baswedan dengan 25,3 persen suara.

Dalam survei dan simulasi serupa pada Februari lalu, Ganjar sempat memimpin dengan 36,3 persen perolehan suara. Posisi kedua ditempati Prabowo dengan 24,2 persen suara. Sementara itu, di posisi ketiga, ada Anies Baswedan dengan 23,2 persen perolehan suara. Dengan itu, dibandingkan simulasi sebelumnya, Prabowo dan Anies mengalami peningkatan suara. Sedangkan Ganjar turun cukup drastis.

Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan mengatakan setidaknya ada dua faktor utama menurunnya elektabilitas Ganjar. Pertama, gencarnya endorsement Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Prabowo Subianto. Menurutnya, kedekatan Presiden dengan Prabowo membuat pendukung dan loyalis Jokowi merasa memiliki opsi selain Ganjar untuk 2024. Mereka yang ragu mendukung Ganjar akan beralih mendukung Prabowo. Menurut Djayadi, pada survei Februari lalu, pendukung Jokowi yang memilih Ganjar berada di kisaran 56-60 persen.

“Sejak 5 bulan terakhir, sejak katakanlah mulai Desember sampai sekarang itu, Pak Jokowi runtang-runtung ke sana-kemari membawa Prabowo,” ucapnya

Adapun faktor kedua, menurut dosen senior Universitas Paramadina, Jakarta, itu, gagalnya Piala Dunia U-20 digelar di Indonesia.

Ganjaran untuk Ganjar dianggap sebagai salah satu tokoh publik yang memiliki andil besar dalam gagalnya turnamen itu karena menolak kedatangan tim Israel. Padahal, Djayadi menjelaskan, para pendukung agenda internasional sepakbola itu berasal dari kalangan pendukung Jokowi dan Ganjar.

“Dua faktor itu membuat elektabilitasnya turun sekitar 8 persen. Namun 8 persen itu tidak pindah semuanya ke Prabowo. Dari total itu, hanya sekitar 3 persen yang pindah ke Prabowo, yang 4-5 persen berubah menjadi ragu-ragu,” jelas Djayadi.

Namun, menurut Djayadi, Ganjar masih memiliki peluang mengembalikan tingkat elektabilitasnya. Isu gagalnya Piala Dunia U-20 dianggap tidak akan bertahan lebih dari dua bulan. Terlebih isu tersebut tidak menyangkut skandal moral maupun kriminal, yang biasanya relatif lebih lama diingat oleh publik.

Di sisi lain, Djayadi menilai Ganjar memiliki potensi kemenangan yang tinggi saat dipasangkan dengan Prabowo. Menurut pantauan LSI, pada April lalu, masih ada sekitar 40 persen pendukung Prabowo pada 2019 yang loyal hingga saat ini. Namun, sisanya sekitar 44 persen pindah mendukung Anies Baswedan.

“Minimal Prabowo punya basis solid sekitar 15-20 persen. Jumlah itu, kalau digabungkan dengan Ganjar, yang pendukung utamanya adalah pemilih Jokowi, tentu akan sangat mungkin membuat mereka lebih mudah menang, berpeluang besar menang,” demikian analisisnya.

Ketua Umum Relawan Ganjar Pranowo (RGP) Heru Subagja turut mengamini bahwa batalnya Piala Dunia U-20 berdampak pada turunnya elektabilitas Ganjar. Ia berdalih banyak pihak yang kurang paham aturan atau kebijakan luar negeri dan justru hanyut menyalahkan Ganjar.

Menurut Heru, momen itu justru membuktikan Ganjar telah lolos ujian loyalitas kepada PDI Perjuangan sekaligus Jokowi.

Ia dianggap berani mengambil risiko dengan menjalankan perintah partai dan berbicara mewakili para kader untuk menolak Israel. Di sisi lain, menurutnya, sikap itu tidak melunturkan kedekatan Jokowi dengan Ganjar. Terbukti, dalam waktu dekat ini, Ganjar mendampingi Presiden melakukan serangkaian kegiatan di Jawa Tengah.

“Sikap kami jelas. Tetap tegak lurus dan pantang mundur, dukung Ganjar Pranowo sampai modyar,” ucapnya kepada reporter

Sejalan dengan itu, Ketua Seknas Ganjar Indonesia (SGI) Rihmot Turnip mengklaim turunnya elektabilitas Ganjar hanya bersifat sementara. Menurutnya, pilihan politik Ganjar untuk menolak Israel merupakan bukti bahwa ia konsisten dengan perjuangan yang ditempuh.

Di sisi lain, menurut Turnip, elektabilitas Ganjar saat ini tidak menghalangi peluang dukungan dari sejumlah partai. Bahkan SGI yakin PDI Perjuangan akan mengusung Ganjar sebagai capres. Salah satunya dengan isyarat yang mereka baca dari mobil listrik bertuliskan “g24” yang diberikan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto kepada Puan Maharani pada Sabtu (8/10/2022).

“KIB kami kira juga akan dukung Ganjar. Ada bahasa isyarat politik, termasuk kode mobil listrik yang diberikan Pak Airlangga g24, saya artikan sebagai Ganjar tahun 2024,” ucapnya kepada reporter

Amien Rais sempat menyebut, elektabilitas Ganjar “nyungsep” usai Indonesia gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Ganjar sendiri tertawa merespons pernyataan pendukung Anies Baswedan tersebut.

“Lebih baik kita ngecek persiapan mudik. Hehehe,” kata Ganjar dilansir dari CNNJateng, Sabtu (8/4/2023).

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin mengatakan PDI Perjuangan dan Ganjar salah perhitungan terkait isu Piala Dunia U-20 dan Israel. Menurut dugaan Ujang, mereka awalnya berharap dukungan dari kalangan muslim yang sering dikaitkan dengan isu dukungan terhadap Palestina. Namun, alih-alih dukungan, justru kritik dan turunnya elektabilitas yang mereka peroleh. Ia menilai mereka harusnya lebih berhati-hati mengingat penonton atau penikmat sepakbola di Indonesia ada di kisaran 70 persen dari populasi.

Walaupun Ganjar adalah salah satu kader potensial, penurunan elektabilitasnya tidak dapat dianggap remeh oleh PDI Perjuangan. Menurut Ujang Komarudin, dalam lima bulan ke depan, Ganjar harus mampu menaikkan elektabilitasnya. Jika elektabilitas dia menurun, peluang mendapat tiket capres dari parpol kian tipis.

“Kalau turun, kalau nyungsep, kalau kalah oleh Prabowo atau Anies elektabilitasnya ke depan, ya akan sulit menjadi pilihan,” ucapnya.

Adapun Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menganggap isu batalnya Piala Dunia U-20 di Indonesia hanya akan jadi angin lalu dan tidak akan berdampak lama terhadap Ganjar dan PDI Perjuangan. Justru sebaliknya, menurut Adi, elektabilitas Ganjar akan mudah naik jika nanti akhirnya dideklarasikan oleh partainya sebagai capres.

“Ganjaran untuk Ganjar, Ganjar kan masih tahanan kota, nggak boleh ke mana-mana, hanya fokus di Jawa Tengah. Bisa dibayangkan itu kalau Ganjar roadshow di seluruh Indonesia, itu akan kuat menaikkan elektabilitasnya,” kata Adi.

Politikus senior PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno mengatakan hasil survei masih akan terus berubah-ubah.

Untuk itu, ia mengimbau publik tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

“Sikap parpol masih dinamis seturut persepsi parpol terhadap manfaat kerja sama politik yang digagas. Jadi proses negosiasi masih akan terus berlangsung,” kata Hendrawan kepada reporter.

Ganjaran untuk Ganjar juga belum tentu diusung oleh PDI Perjuangan. Wakil Sekjen Bidang Internal PDI Perjuangan Utut Adianto menegaskan sejauh ini partainya belum menentukan siapa capres yang akan diusung. Menurutnya, penentuan terkait kandidat Pilpres 2024 itu menunggu keputusan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

“Semua nunggu Ibu (Megawati), kan begitu. Pasti sudah ada di kantong Ibu-lah, tapi kita nggak tahu apakah itu Mbak Puan, apakah itu Mas Ganjar,” kata Utut saat ditemui reporter.

Sementara itu, sumber dari kalangan terdekat Ganjar mengklaim, PDI Perjuangan telah bulat mengusung Ganjar Pranowo sebagai Capres 2024. Salah satu kader PDI Perjuangan di DPR RI tidak menyangkal terkait informasi tersebut. Namun, Hendrawan menegaskan, informasi tersebut masih bersifat spekulatif.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *